Di Gaza, serangan panik yang hebat dan berulang, dipadukan dengan tingkat stres yang tinggi secara terus-menerus, kecemasan, serta trauma karena kehilangan orang terkasih sangat merusak kesehatan psikologis dan fisik anak-anak. Ini menyebabkan perubahan fisiologis serius dan penyebaran penyakit yang tidak dapat dijelaskan.
Setelah rumah tetangganya di Khan Younis dibom pada Januari 2024, Lana Khalil Sharif, berusia 10 tahun mengalami serangan panik parah yang membuatnya takut dan gemetar. Menurut ayahnya, Khalil al-Sharif, dua hari kemudian, Lana menyadari bercak kecil kulit putih muncul di wajahnya.
Ibunya membawanya ke dokter kulit dan meresepkan obat. “Saya melihat bintik-bintik putih itu semakin membesar. Kami kembali ke dokter setelah bercak-bercak itu menyebar, dan ia mengonfirmasi bahwa Lana mengalami vitiligo akibat trauma berat,” kata ibu Lana mengatakan kepada The New Arab (TNA) edisi berbahasa Arab, kemarin.
Keluarga diberitahu bahwa terapi laser adalah perawatan yang direkomendasikan, tetapi hal itu tidak tersedia di Gaza. Bercak-bercak putih terus menyebar di wajah dan tubuh Lana, dan rambutnya pun mulai memutih. Orang tuanya mencari bantuan dari seorang konselor, yang menggunakan metode terapi seperti menggambar dan sesi konseling untuk mencoba membangkitkan semangatnya.
Meskipun telah berupaya keras, Lana terus mengalami serangan panik, yang dipicu aksi militer Israel yang berulang. Setiap kali mendengar berita tentang kerabat atau tetangganya yang terbunuh, ia menjadi takut. “Ia akan berkata, ‘Aku tidak ingin mati. Aku masih muda.’ Ketika ia mendengar suara rudal, ia akan menutup telinga dan wajahnya,” Ibunya mengenang.
Selama episode ini, orang tuanya akan memeluknya dan mencoba membuatnya merasa aman. Namun, yang paling membuat Lana kesal adalah isolasi sosialnya — anak-anak lain tidak lagi bermain dengannya. “Dia tidak mau mengambil air dari truk distribusi karena takut diganggu, dan dia menolak pergi ke sekolah atau bahkan meninggalkan rumah,” tambah ibunya.
Malak Ahmed, berusia enam tahun, yang lahir dengan gangguan spektrum autisme, juga mengalami penurunan kesehatan yang dramatis setelah ayahnya tewas dalam serangan udara Israel di kamp pengungsi Nuseirat pada Oktober 2023.
Ibu Malak, Mona Shehada, menjelaskan bahwa ayahnya adalah sahabat karib dan satu-satunya teman bermain putrinya. Setelah kematian ayahnya, Malak, yang kesulitan berbicara, mengalami kesedihan mendalam dan akan berteriak-teriak setiap kali melihat foto ayahnya dipajang di rumah.
Tak lama kemudian, lepuh mulai muncul di kulit Malak. Dokter khawatir ia mungkin telah mengidap kanker, sehingga memaksa keluarganya untuk segera mengajukan permohonan izin agar ia dapat bepergian ke luar negeri untuk menjalani perawatan.
“Kondisi putri saya memburuk setelah ayahnya meninggal,” kata Mona. “Abses terbentuk di hatinya, dan limpanya harus diangkat. Dokter memperkirakan ada kemungkinan 80 persen dia menderita leukemia.”
Genosida Israel di Gaza
Malak kini menjalani pengobatan untuk tiga penyakit berbeda, yang semuanya muncul setelah ayahnya meninggal. Karena tidak ada laboratorium biomedis yang beroperasi di Gaza untuk melakukan uji diagnostik, pemeriksaan kesehatan mingguan menunjukkan adanya penurunan fungsi tubuhnya. Jumlah sel darah putihnya mencapai sekitar 60.000, dibandingkan dengan kisaran normal 5.000.
Mona mengaitkan komplikasi yang dialami putrinya dengan rasa takut yang dialaminya: “Ketika serangan udara terjadi, dia mulai berteriak. Sejak ayahnya meninggal, hidupnya berubah total. Sebelumnya, dia hanya mengidap autisme, tetapi sekarang dia mengidap berbagai penyakit. Berat badannya seharusnya lebih dari 30 kg; kini kurang dari 15 kg. Kami berharap dia dapat segera pergi berobat sebelum kondisinya semakin memburuk.”
Di antara faktor-faktor yang memperburuk situasi di Jalur Gaza adalah penghancuran 38 rumah sakit pemerintah oleh Israel, serta penutupan 81 pusat kesehatan dan 164 klinik medis. Selain itu, sejak 2 Maret 2025, Israel telah memblokir pasokan makanan, bantuan, dan medis, yang membahayakan nyawa pasien dan memperburuk bencana kelaparan di Jalur Gaza.
Pada 6 Desember 2024, Joud Saleh Abu Saleh yang berusia empat tahun selamat dari serangan udara yang menewaskan kedua orang tuanya. Trauma yang dialaminya terus menghantuinya setiap hari.
Bibinya, Maha Abu Sobhe, berkata: “Joud dan orang tuanya datang ke rumah kami setelah rumah mereka dibom. Beberapa menit sebelum ledakan, dia datang untuk tidur dengan saya, seperti yang sering dia lakukan sejak lahir; dia menganggap saya sebagai ibu kedua.”
Ia melanjutkan: “Kedua saudara perempuan saya dan ayah Joud tewas dalam pengeboman yang menyebabkan ledakan besar. Saya selamat bersama seluruh keluarga dan Joud. Namun, ia melihat kru ambulans menarik jenazah orang tuanya dari reruntuhan, membungkusnya dengan selimut, lalu menghadiri pemakaman dan penguburan. Peristiwa ini meninggalkan luka yang dalam di hatinya dan kesedihan yang ia ungkapkan melalui teriakan dan perilaku marah.”
Sejak kehilangan orang tuanya, Joud menjadi sangat dekat dengan bibinya. “Dia takut pada siapa pun yang mendekatinya atau pergi ke kamar mandi kecuali saya bersamanya, dan dia takut pada ketukan pintu. Suara bom mengingatkannya pada orang tuanya. Selama sebulan penuh, dia terbangun sambil menjerit, dan saya akan memeluk dan menghiburnya,” kata Maha.
Maha menambahkan bahwa kondisi Joud memburuk ketika ia sempat dirawat oleh keluarga ayahnya, yang kemudian mengembalikannya ke dalam perawatannya.
Menunggu Perawatan
Kasus lain yang menyedihkan adalah kasus Rahaf Ayyad, 10 tahun, seorang gadis yang dulunya bersemangat kini kurus kering dan tidak dapat berjalan karena kekurangan gizi akut. Ia memohon kepada orang tuanya untuk diberi daging, telur, atau ayam, tetapi mereka tidak mampu menyediakannya.
Kondisi Rahaf telah memicu kemarahan publik di Gaza, dengan para dokter tidak dapat mengidentifikasi penyebab pastinya karena kurangnya laboratorium yang berfungsi.
Menurut Defence for Children International (DCI), Rahaf dijadwalkan dievakuasi ke Uni Emirat Arab (UEA) bersama ibunya untuk perawatan medis darurat pada bulan Mei. Ia menjalani pemeriksaan di Rumah Sakit Eropa untuk Gaza di Khan Younis pada 13 Mei saat persiapan sedang dilakukan untuk menyeberang melalui Rafah.
Namun, serangan udara Israel menghantam kompleks rumah sakit, sehingga menunda keberangkatan mereka. Rahaf tetap berada di Gaza, menunggu kesempatan untuk pergi dan menerima perawatan kritis.
Dr Amal Abu Ibada, Direktur Program Kesehatan Mental Komunitas Gaza, menjelaskan ketakutan adalah reaksi alami terhadap pengalaman traumatis, memiliki gejala fisik dan psikologis. Ia mengatakan individu mungkin mengalami peningkatan denyut jantung atau keringat, dan jika rasa takut menjadi berulang, hal itu dapat berkembang menjadi gangguan kecemasan kronis.
“Hal ini melibatkan perubahan hormonal, seperti peningkatan adrenalin, yang menyebabkan perubahan fisiologis,” katanya mengutip TNA.
Perang telah memengaruhi semua orang di Gaza dengan meningkatnya kasus gangguan stres pascatrauma (PTSD) dan gangguan tidur di semua usia, terutama di antara kelompok rentan seperti anak-anak, yang tidak mampu melepaskan diri dari trauma.
Menurut studi terkini dari Pusat Kesehatan Mental Gaza, yang meneliti dampak perang terhadap depresi, kecemasan, dan PTSD di antara para pengungsi, 70 persen peserta menunjukkan gejala dari ketiga kondisi tersebut, sementara hanya 8 persen yang menunjukkan gejala dari satu kondisi saja.(Sumber)





