Politiknesia.com

Wamendag Dyah Roro Esti Tekankan Pentingnya Perkuat Stabilitas Perdagangan di Kawasan ASEAN

Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti menekankan pentingnya penguatan ketahanan kawasan ASEAN di tengah ketidakpastian ekonomi global. Roro menjelaskan, negara-negara di Asia Tenggara harus mengambil langkah proaktif untuk memajukan stabilitas finansial dan perdagangan.

Menurutnya, pemerintah meyakini kolaborasi strategis antarnegara anggota akan menjadi kunci utama dalam menghadapi tekanan geopolitik. Ia mengatakan, inisiatif kolektif diperlukan untuk mengubah setiap tantangan dunia menjadi kesempatan ekonomi yang menguntungkan bagi seluruh rakyat.

“Untuk itu, kami menyambut baik beberapa inisiatif yang lahir sebagai upaya ASEAN beradaptasi di situasi saat ini. Seperti pembentukan ASEAN Geoeconomics Task Force (AGTF) pada April 2025,” ujar Roro saat memberikan opening remarks pada acara Soft Launch dan Inaugural Policy Dialogue Southeast Asia Futures Initiative Centre (SEAFIC) yang berlangsung di Jakarta, Selasa, 10 Februari 2026.

Pembentukan satuan tugas tersebut, katanya, bertujuan untuk memberikan rekomendasi kebijakan bagi para pemimpin negara dalam mengelola risiko ekonomi. Fokus utamanya yaitu mencakup integrasi kawasan serta pencapaian target ambisius mengenai penerapan tarif eksternal umum secara koheren.

Ia megatakan, negara-negara di kawasan kini sedang mengakselerasi transformasi digital melalui perjanjian ekonomi digital pertama di tingkat dunia. Kerja sama ini diproyeksikan mampu membuka potensi ekonomi digital hingga menyentuh angka USD 2 triliun pada tahun 2030.

“Inisiatif ini mencerminkan transisi ASEAN dari berprinsip netralitas menuju ke arah kerja sama strategis yang proaktif. Ini sejalan dengan visi Indonesia yang lebih luas yaitu beradaptasi dan memitigasi, yang artinya beradaptasi dengan perubahan global,” kata Roro.

Roro mengatakan, sektor manufaktur berkelanjutan seperti baterai kendaraan listrik dan semikonduktor juga terus diperkuat guna meningkatkan daya saing. Hingga awal tahun ini, kawasan telah berhasil menyelesaikan 27 dari 34 rencana aksi penguatan rantai nilai global.

Ia mengatakan, upaya mitigasi perubahan iklim melalui strategi netralitas karbon diperkirakan mampu menciptakan hingga 12 juta lapangan kerja hijau. Selain itu, inisiatif lingkungan ini berpotensi menarik pendanaan hijau sebesar USD 1,1 triliun pada akhir dekade ini.

Hal yang sama disampaikan Kepala Southeast Asia Futures Initiative Center (SEAFIC) Zafrul Aziz. Ua menyatakan prinsip netralitas yang selama ini dipegang teguh perlu didukung tindakan nyata.

Zafrul menilai ASEAN harus berani melindungi kepentingan jangka panjangnya dengan memanfaatkan segala potensi komersial yang tersedia. Stabilitas kawasan yang terbuka, lanjutnya, selama ini telah memberikan banyak keuntungan bagi pertumbuhan ekonomi di Asia Tenggara secara signifikan.

“Saat ini ASEAN perlu melindungi kepentingan jangka panjangnya dan memanfaatkan peluang yang ada. Jadi, kita harus beralih dari adaptasi pasif ke aktif dan berorientasi pada masyarakat, di sinilah SEAFIC akan berkontribusi,” ujar Zafrul.(Sumber)