Perselisihan yang telah lama dirumorkan bergejolak antara Eks Presiden Filipina, Rodrigo Duterte dengan suksesornya, Presiden Ferdinand Marcos Jr, semakin terlihat jelas belakangan ini.
Dalam pidatonya yang dipenuhi sumpah serapah pada Minggu (28/1), Duterte menuduh Marcos Jr berencana untuk memperluas kekuasaan dan mengikuti jejak mendiang sang ayah, Ferdinand Marcos Sr, yang selama tiga periode (1965-1986) memerintah dengan tangan besi.
Tak berhenti di situ, Duterte juga menuding Marcos Jr — yang akrab disapa Bongbong, sebagai seorang pencandu narkoba.
Dikutip dari Associated Press, tudingan-tudingan pedas Duterte ini ia sampaikan di hadapan ribuan pendukung setianya di bagian selatan Kota Davao. Mereka murka, setelah beredar laporan soal kedatangan mendadak ke Filipina penyidik dari Mahkamah Pidana Internasional (International Criminal Court/ICC) pada bulan lalu.

Kedatangan para penyidik dari ICC, menurut Duterte, adalah untuk menyelidiki kasus pembunuhan yang marak terjadi selama penerapan kebijakan anti-narkoba saat dirinya menjabat sebagai presiden pada 2016-2022. Namun, laporan mengenai kedatangan para penyidik itu belum dikonfirmasi kebenarannya.
Adapun Duterte dikenal dengan sikap kerasnya memberantas narkoba yang menyebabkan ribuan tersangka — sebagian besar orang miskin, tewas tanpa penjelasan. Tanpa memberikan bukti, Duterte menyebut nama Marcos Jr pernah tercatut di dalam daftar tersangka pengguna narkoba.
“Anda, para militer, Anda tahu ini, kita memiliki seorang presiden yang merupakan seorang pecandu narkoba,” ujar Duterte, disambut oleh sorak-sorai dari para pendukungnya.

Menanggapi tuduhan Duterte, Badan Pemberantasan Narkoba Filipina pada Senin (29/1) buka suara. Dijelaskan, nama Marcos Jr tidak pernah masuk ke dalam daftar tersangka yang dimaksud — bertolak belakang dengan klaim Duterte.
Pada 2021, saat Marcos Jr masih berstatus sebagai calon presiden, juru bicaranya menunjukkan dua laporan dari laboratorium kepolisian dan rumah sakit swasta yang membuktikan bahwa dia dinyatakan negatif dari narkoba jenis kokain dan metamfetamin.
Marcos Jr Dituding Ingin Ikuti Jejak Sang Ayah
Masih dalam pidato yang sama di Davao, Duterte menuding sekutu-sekutu politik Marcos Jr berencana untuk mengandemen konstitusi dan menghapus batas masa jabatan presiden. Fenomena ini serupa dengan apa yang terjadi dengan Marcos Sr, yang berkuasa selama 14 tahun sebelum akhirnya digulingkan.
Duterte mengatakan, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Filipina telah membahas soal amandemen konstitusi. Sehubungan dengan itulah, ia menuduh anggota DPR yang dekat dengan Marcos Jr — termasuk Ketua DPR Martin Romualdez, telah menyuap pejabat-pejabat lokal supaya menyetujui amandemen konstitusi tahun 1987.







