Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM) ikut berpartisipasi aktif dalam Konferensi Pemuda Indonesia untuk Gaza Palestina di Gedung Merdeka, Bandung untuk mendeklarasikan dukungan penuh terhadap kemerdekaan Palestina dan mengecam agresi Israel.
Tujuh dekade lalu, di jantung Asia-Afrika, para pemimpin bangsa berkumpul di Gedung Merdeka, Bandung, menorehkan sebuah pernyataan agung: “Menghapuskan segala bentuk penjajahan di atas dunia harus menjadi cita-cita semua bangsa yang merdeka.” (Sila ke-3 Dasa Sila Bandung, 1955)
“Sila ketiga Dasa Sila Bandung jelas: ‘Menghapuskan segala bentuk penjajahan.’ Lalu kita mau bilang apa pada rakyat Palestina hari ini? Mau kita diam dan berpura-pura lupa? IMM menolak diam. IMM menolak lupa. IMM berdiri membela Palestina dengan cara kita: suara, data, diplomasi publik, dan public pressure” tegas Fadhil Mahdi, Ketua DPP IMM Bidang Hubungan Luar Negeri, di sela konferensi.
Sebagai mitra strategis di jalur kebijakan, Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI yang turut hadir juga menyatakan dukungan atas gerakan pemuda dan mahasiswa yang konsisten membela Palestina. Dalam sambutannya, Dr. Mardani Ali Sera, Ketua BKSAP DPR RI mengatakan “Di Gedung Merdeka ini masih ada satu peserta Konferensi Asia Afrika yang masih belum merdeka. Palestina. Ya, kita masih berhutang untuk itu.”
Sejalan dengan itu, IMM menolak solidaritas semu. Bagi IMM, membela Palestina bukan tren satu malam, bukan pose media sosial, bukan jargon musiman. Ini perintah moral, perintah sejarah, perintah kemanusiaan. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, ucap Fadhil Mahdi. Karena itu, pembelaan pada Palestina harus dihidupkan di ruang-ruang diskusi, aksi nyata, dan suara diplomasi publik.
IMM pun menekankan tiga jalur utama untuk menghidupkan Dasa Sila Bandung:
1. Diplomasi Publik — Mendorong narasi pro Palestina di forum nasional maupun internasional.
2. Public Pressure — IMM mendukung gerakan boikot produk terafiliasi pendudukan dan penindasan. Boikot bukan gaya hidup sesaat, tapi tanggung jawab moral generasi muda Muslim.
3. Literasi & Advokasi — IMM akan mendukung diskusi, publikasi, dan kampanye literasi digital untuk melawan propaganda, membuka fakta, dan mendidik publik agar paham akar konflik.
“Kita memang tak pegang senjata. Tapi kita bisa pegang pena, data, dan algoritma. Satu kata bisa menembus tembok propaganda. Satu data bisa merobohkan kebohongan. IMM akan memaksimalkan itu,” tambah Fadhil Mahdi.
IMM juga mendesak pemerintah Indonesia untuk tetap konsisten pada politik luar negeri bebas aktif. Indonesia, tegas IMM, tidak boleh goyah di bawah tekanan diplomasi normalisasi. Normalisasi hubungan dengan pendudukan tanpa kemerdekaan Palestina hanyalah pengkhianatan terhadap Dasa Sila Bandung.
IMM menyerukan seluruh kader di cabang, komisariat, dan kampus Muhammadiyah untuk tidak tinggal diam. Solidaritas untuk Palestina harus diterjemahkan ke langkah konkret sesuai kapasistas masing-masing.
Jika dulu Bandung jadi saksi lahirnya semangat anti-penjajahan. Maka hari ini IMM berdiri di Bandung, meneruskan wasiat itu. Selama satu bangsa masih dijajah, tidak ada bangsa yang benar-benar merdeka.





