Di momen Democracy Youth Summit 2025 di Tokyo Jepang, Ketua Umum DPP KNPI, Tantan Taufik Lubis ungkap sejumlah tantangan partisipasi pemuda yang bikin partisipasi mereka sering terhambat. Pertama adalah menguatnya apatisme sosial dan individualisme. Banyak pemuda yang merasa isu-isu sosial atau organisasi tidak relevan dengan kehidupan mereka.
“Mereka fokus lebih ke urusan pribadi, seperti karier, pendidikan, atau hiburan. Apalagi, kalau dari kecil mereka tidak pernah didorong untuk peduli pada lingkungan sosial, makin besar kemungkinan mereka jadi individualistis,” tutur Tantan yang biasa disapa Tolub ini.
Kedua, lanjut Tantan, kaum muda kebanjiran informasi dan misinformasi digital. Di era digital, menurutnya, pemuda sering terjebak dalam overload informasi, bahkan misinformasi. Ini bikin mereka bingung atau skeptis terhadap isu-isu yang muncul.
“Dampaknya mereka jadi malas terlibat karena tidak tahu mana yang benar atau layak diperjuangkan. Polarisasi di media sosial juga bikin suasana makin toksik,” ungkap Tolub yang juga Wakil Rektor Universitas Jakarta ini.
Ketiga, terjadi gap literasi digital. Walau generasi muda disebut digital native, namun menurut Tantan tidak semua punya kemampuan literasi digital yang cukup. “Banyak yang paham cara pakai teknologi, tapi tak tahu cara memanfaatkannya untuk kegiatan positif seperti organisasi atau gerakan sosial. Ini jadi tantangan besar, terutama di negara berkembang,” ujar presiden National Youth Council (NYC) chapter Indonesia ini.
Keempat, adanya kendala waktu dan prioritas. Tantan menyebut pemuda sering merasa tak punya waktu untuk aktif di organisasi karena sibuk kuliah, kerja, atau kegiatan lain. “Ada juga yang lebih memilih menghabiskan waktu untuk hal-hal instan, seeprti media sosial atau nonton Netflix, daripada ikut kegiatan sosial yang dianggap buang waktu” paparnya.
Yang kelima, atmospher lingkungan sosial yang kurang mendukung. Kalau keluarga, teman, atau komunitas sekitarnya tidak mendukung, semangat untuk berpartisipasi bisa hilang. “Misalnya, ada anggapan bahwa kegiatan organisasi hanya buang-buang waktu atau tidak menghasilkan apa-apa secara finansial,” lanjut Tantan Taufik Lubis.
Berikutnya yang keenam, lemahnya partisipasi pemuda diperparah adanya sistem organisasi yang laku. Banyak organisasi masih terjebak struktur yang hierarkis dan kaku, bikin anak muda merasa tak punya ruang untuk berinovasi. “Anak-anak muda jadi merasa kontribusinya tidak dihargai atau tidak relevan dengan kebutuhan zaman,” ucapnya.
Selanjutnya, tantangan kepemimpinan dan keberagaman. Di negara seperti Indonesia, keberagaman budaya, agama, dan bahasa sering jadi tantangan besar. “Pemuda yang kurang memahami keberagaman ini cenderung sulit membangun kepemimpinan inklusif, yang sangat penting untuk menciptakan lingkungan organisasi yang harmonis,” kata Tolub.
Kedelapan, semakin menguatnya kesenjangan pendidikan membuat partisipasi pemuda juga rendah. Masih banyak pemuda yang tak punya akses pendidikan layak, terutama di daerah terpencil. Ini bikin mereka sulit ikut kegiatan yang membutuhkan keterampilan tertentu atau wawasan luas tentang isu-isu sosial.
Begitu pun dalam aspek keuangan. Kurangnya dukungan finansial memberi andil kurangnya partisipasi pemuda dalam politik atau organisasi. “Ikut organisasi atau kegiatan sosial seringkali butuh biaya, entah itu untuk transportasi, akomodasi, atau kontribusi lainnya. Bagi pemuda yang kondisi finansialnya terbatas, ini jadi penghalang besar untuk terlibat lebih aktif” ungkap Tantan Taufik Lubis.
Jadi, walaupun pemuda punya potensi besar untuk jadi agen perubahan, sejumlah tantangan ini bikin mereka sering tak tergerak. “Solusinya? Perlu pendekatan yang relevan, seperti penguatan literasi digital, mendukung akses pendidikan, menciptakan ruang organisasi yang fleksibel, dan mendorong lingkungan sosial yang suportif.” pungkasnya.





