Anggota DPR RI Asal Sumbar, Darul Siska menyampaikan, bahwa tahun 2045 nanti menjadi momentum 100 tahun Indonesia merdeka dan Pemerintah mengantisipasinya dengan mencanangkan terwujudnya Generasi Emas Indonesia.
Darul Siska berpendapat, ditahun itu Indonesia diproyeksi akan masuk dalam jajaran empat besar ekonomi dunia di bawah China, India, dan Amerika Serikat. Total populasi diperkirakan mencapai 318,9 juta orang.
“Di saat yang sama, Indonesia akan mencapai puncak bonus demografi di mana usia produktif (15-64 tahun) akan menjangkau 70% populasi penduduk,” katanya saat memaparkan laporan kinerja tahun 2022 di Padang, Minggu, 18 Desember 2022.
Bagi Darul Siska, Generasi Emas adalah orang yang sehat fisiknya, cerdas otaknya, dan mulia akhlaknya.
Untuk mewujudkannya pemerintah Indonesia harus merencanakan program terpadu yang diintegrasikan dengan upaya peningkatan modal manusia (human capital).
Darul Siska pun menjelaskan, generasi emas merupakan kumpulan manusia produktif, inovatif, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, berkarakter unggul dan berkepribadian kuat.
“Anak-anak kecil sekarang adalah calon bibit unggul generasi emas harapan kita. Di tangan mereka yang masih bayi dan anak-anak hari ini, masa depan dan nasib bangsa kita ini dipertaruhkan,” jelasnya.
Menurut Anggota Komisi IX itu, untuk mewujudkan Generasi Emas, Bangsa ini menghadapi banyak tantangan.
Bangsa ini masih bergelut dengan berbagai persoalan terutama rendahnya kualitas sumber daya manusia. Kelemahan sumber daya manusia dapat dilihat dari dua aspek, yaitu aspek fisik dan non fisik.
Berdasarkan laporan United Nations Development Programme (UNDP), Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia secara global berada pada rangking 114 dari 191 negara.
Sejalan dengan itu, berdasarkan laporan World Population Review yang telah menguji rata-rata tingkat kecerdasan atau Intelegensia Quotient (IQ) penduduk negara-negara di dunia, Indonesia memiliki skor 78,49.
Nilai ini juga didapat Papua Nugini dan Timor Leste. Indonesia juga menghadapi persoalan stunting yang saat ini mendera anak balita (bayi < 5 tahun) dan anak baduta (bayi < 2 tahun). Angka prevalensi stunting di Indonesia tahun 2021 mencapai 24,4% .
Pemerintahan telah bertekad menurunkan angka stunting menjadi 14% pada tahun 2024.
Disisi lain generasi produktif saat sekarang ini juga menghadapi persoalan yang tidak ringan.
Hal ini dapat dilihat dari tingginya Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Indonesia yang mencapai 8,42 juta orang, disamping tenaga setengah menganggur yang jumlahnya jauh lebih besar dari angka tersebut.
Sebagai Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar di Komisi IX yang membidangi kesehatan, kependudukan, dan ketenagakerjaan, Darul Siska memilih Stunting dan Ketenagakerjaan sebagai fokus perhatiannya.
Darul Siska pun terus berusaha mengambil peran dan berkontribusi dalam penurunan dan pencegahan stunting serta ikut mengatasi masalah bidang ketenagakerjaan sebagai wujud pengabdian, sekaligus menjalankan amanah masyarakat Sumbar yang diberikan kepadanya.
“Angka prevalensi stunting di Sumatera Barat mencapai 23,30%, di bawah rata-rata nasional,” katanya.
Darul Siska menilai, kondisi ini menggambarkan tingginya jumlah generasi baru yang berpotensi menjadi beban bagi keluarga, masyarakat, dan negara. Penanganan dan pencegahan stunting di Sumatera Barat menjadi permasalahan yang memerlukan perhatian bersama.
“Mengatasi stunting membutuhkan aksi terintegrasi dari seluruh pemangku kepentingan terkait dengan pendekatan kualitiatif dan kuantitatif. Berbagai bentuk kegiatan sosialisasi dan edukasi yang bersifat partisipatif diharapkan dapat meningkatkan pemahaman publik akan bahaya stunting,” ucapnya.
Terakhir, Darul Siksa mengatakan, lebih kurang 4.650 masyarakat di 26 kecamatan yang merupakan Pasangan Usia Subur dan keluarga yang memiliki anak baduta atau balita menjadi peserta dalam kegiatan yang menelan biaya Rp 3,75 Miliar ini.
(Sumber)





