Politiknesia.com

Industri Manufaktur RI Tertinggal, Vietnam dan Thailand Melaju Kencang

Kinerja industri manufaktur Indonesia terus menurun dalam lima tahun terakhir. Indonesia masih tertinggal dari Vietnam, Thailand, dan Malaysia.

Guru Besar Universitas Paramadina Ahmad Badawi Saluy mengatakan, Indonesia konsisten berada di peringkat 39 secara global.

“Kita selalu di bawah dari negara-negara Asia seperti Vietnam, Thailand, dan Malaysia,” ujarnya dalam diskusi publik INDEF yang disiarkan secara virtual, Kamis (27/2/2025).

Teknologi Rendah, Daya Saing Lemah
Ahmad Badawi menjelaskan, rendahnya pemanfaatan teknologi menjadi penyebab lemahnya industri manufaktur Indonesia.

Pada 2020, industri berbasis sumber daya alam (resource-based) masih mendominasi. Namun, industri dengan pemanfaatan teknologi tinggi (high technology) hanya 4,5 persen.

“Itu artinya industri-industri kita itu banyak yang tidak support dari teknologi-teknologi yang tinggi,” ungkapnya.

Baca juga: [POPULER MONEY] Won Korea Selatan “Jatuh” Usai Pengumuman Darurat Militer | Pemerintah Minta Apple Investasi Baru Rp 15,95 Triliun

Situasi ini berbeda dengan Vietnam yang memiliki industri berbasis sumber daya lebih rendah, tetapi pemanfaatan teknologi tinggi mencapai 41 persen. Industri berteknologi rendah (low technology) di negara itu mencapai 37,4 persen.

Malaysia juga unggul dengan resource-based mencapai 23,7 persen dan high technology 43,2 persen.

Sementara Thailand, meski resource-based hanya 25 persen dan high technology 19,4 persen, tetap mampu mengembangkan industri berbasis teknologi menengah (medium technology).

Industri Mulai Pulih?
Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia sempat menyentuh angka 48,3 pada kuartal III 2020. Pada Desember 2021, angkanya naik menjadi 53,5 basis poin.

Pada Desember 2024, PMI manufaktur mencapai 51,2. Meski masih di atas angka 50 yang menandakan ekspansi, daya saing industri manufaktur Indonesia tetap perlu diperkuat.(Sumber)