Politiknesia.com

Gubernur Melki Laka Lena: NTT Siap Jadi Sentra Garam Nasional, Tembus Pasar Industri dan Kurangi Impor

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tengah menunjukkan potensi besar untuk menjadi pusat produksi garam nasional.

Dengan luas lahan potensial mencapai 69.962 hektare dan kualitas garam yang tinggi, NTT berpeluang besar untuk memenuhi kebutuhan garam industri nasional dan mengurangi ketergantungan pada impor.

Pada Kamis (8/5/2025), Gubernur NTT, Melki Laka Lena, bersama Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTT, Plt. Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi NTT, serta Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Kupang, meninjau Pabrik Garam Waebelo di Kabupaten Kupang. Kunjungan ini bertujuan untuk melihat langsung proses produksi, pengecekan kualitas garam, serta fasilitas laboratorium yang menjamin mutu produk.

“Kami ingin produk garam dari NTT memiliki standar mutu tinggi dan mampu menembus pasar lebih luas. Ini menjadi bagian dari strategi pembangunan industri daerah berbasis potensi lokal,” ujar Gubernur Melki Laka Lena.

NTT memiliki kondisi alam yang sangat mendukung produksi garam berkualitas tinggi. Dengan musim kemarau yang panjang dan kadar NaCl mencapai 96-97%, produksi garam di NTT sangat potensial untuk memenuhi kebutuhan industri.

Produktivitas rata-rata lahan garam di Nunkurus, misalnya, mencapai 100 ton per hektare untuk setiap siklus panen sekitar 40-45 hari, lebih tinggi dari rata-rata nasional yang berkisar 60-70 ton per hektare. Saat ini, produksi garam industri di NTT tersebar di beberapa kabupaten, antara lain:

Kabupaten Sabu Raijua: 326 ton Baca Juga : Wapres Gibran Kunjungi Petani Kupang, Serahkan Bantuan Alsintan dan Janji Atasi Krisis Air Bagaimana meningkatkan kekuatan laki-laki 13 kali bahkan pada 69 Sementara itu, usaha garam rakyat tersebar di seluruh NTT dengan total produksi mencapai 5.912,11 ton. Strategi Pemerintah untuk Mengurangi Impor

Pemerintah pusat berencana untuk menghentikan impor garam konsumsi pada 2025 dan garam industri pada 2027. Sebagai langkah strategis, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan memperluas lahan tambak garam hingga 500 hektare di Kabupaten Sabu Raijua, NTT.

Proyek ini akan dimulai dengan perluasan 100 hektare sebagai model industri dari hulu hingga hilir. Tantangan dan Harapan

Meskipun potensi besar, pengembangan industri garam di NTT menghadapi beberapa tantangan, seperti penolakan nilai ganti rugi atas pembebasan tanah, penguasaan tanah oleh pihak ketiga, dan masalah legalitas lahan.

Namun, dengan dukungan pemerintah dan investasi yang tepat, NTT memiliki peluang besar untuk menjadi sentra produksi garam nasional, memenuhi kebutuhan industri dalam negeri, dan mengurangi ketergantungan pada impor. Dengan langkah-langkah strategis dan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan investor, NTT siap menjadi pemain utama dalam industri garam nasional.(Sumber)