Bupati Deli Serdang, Asri Ludin Tambunan, buka suara soal insiden Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al Washliyah yang digembok oleh Pemkab Deli Serdang, Sumut. Akibatnya, siswa setara SMP itu pun berlajar di tenda.
Asri menuturkan, penggembokan bukan hanya dilakukan oleh Pemkab Deli Serdang saja. Namun, oleh pihak Al Washliyah juga.
“Sebenarnya sekolah itu digembok oleh kedua belah pihak. Al Washliyah gembok, Pemkab menggembok. Dalam hal apa? Supaya tak ada pihak yang sama sekali diuntungkan,” kata Asri kepada kumparan, Selasa (15/7).
Awal mulanya, tanah tersebut tidah diketahui pemiliknya. Lalu pada tahun 80-an Pemkab Deli Serdang membangun gedung sekolah di atas tanah tersebut untuk SMPN 2 Galang.
Belakangan diketahui tanah seluas 3,5 hektare itu milik Al Washliyah. Per tahun 2024, bangunan dikosongkan dan SMPN 2 Galang pindah gedung.
Pihak Al Washliyah yang mengetahui situasi gedung yang kosong pun mengajukan permohonan ke Pemkab Deli Serdang.
Al Wasliyah juga sempat berdiskusi dengan Pj Bupati Deli Serdang kala itu adalah Wiriya Alrahman. Wiriya pun memberikan izin pemakaian gedung itu dan dijanjikan akan dihibahkan.
Siswa MTs Al Washliyah menggunakan gedung itu selama kurang lebih satu tahun. Namun pada Minggu, 13 Juli 2025, Pemkab menggembok sekolah tersebut.
Soal Hibah
Asri menjelaskan soal proses hibah yang dipersoalkan. Kata Asri, kesepakatan hibah yang sebelumnya dicapai dalam rapat memiliki prosedur.
“Salah. Salah (soal dalam proses hibah gedung bisa diberlakukan shift). Jadi proses hibah bisa dilaksanakan bila sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku ada namanya Permendagri nomor 19 yang mengatur aset Pemda bisa dihibahkan bila tidak diperlukan lagi,” kata Asri.
“Dan saat ini masih ada 325 siswa (SMP Galang) yang mau ditamatkan kelas dua dan tiga. Sesudah ditamatkan itulah kita akan proses hibahnya, kita anggap itu sudah tak diperlukan itulah kesepakatan dengan pihak Al Washliyah yang mereka langgar,” sambungnya.
Solusi
Asri bilang, solusi dalam kasus ini adalah pihak Al Washliyah memberikan waktu hingga 2 tahun agar siswa SMPN 2 Galang lulus semua. Setelah itu gedung tersebut bisa dipakai oleh Al Washliyah.
“Jadi tanah itu betul milik Al Washliyah bangunan milik Pemkab. Itulah solusinya setelah tak dipakai lagi siswa bergeser kita serahkan ke Al Washliyah tapi nunggu lah dua tahun ini biar mereka tamat dulu. Itulah solusi,” jelasnya.
Soal Shift Penggunaan Gedung
Asri menegaskan, tak ada peluang dilakukan shift dalam penggunaan bangunan sekolah. Sebab, kata dia, ada risiko yang harus ditanggung ketika aset negara dipergunakan bersama pihak lain.
“Sekarang misalkan kantor bupati saya pakaikan sama orang swasta pada sore hari boleh nggak? Uang Pemkab ada pertanggungjawaban pemakaiannya dan kalau itu dipakaikan ke swasta pertanggungjawaban negara itu gimana?” kata dia.
“Jadi misalnya kantor saya pagi siang sore saya pakai untuk bupati, sore saya buat praktik dokter, boleh gitu? Paham ya maksudnya. Jadi kalau rusak asetnya itu yang tanggung jawab siapa? Sedangkan kami diaudit,” jelasnya.
Bakal RDP
Di sisi lain, Ketua DPRD Deli Serdang Zakky Shahri mengungkap bahwa MTs Al Washliyah di Petumbukan, Kecamatan Galang, Deli Serdang, Sumut, sudah membangun tenda untuk kegiatan proses belajar mengajar.
“Al Washliyah sudah pasang tenda di tanahnya karena itu kan tanahnya milik mereka ya, kenapa Al Washliyah enggak dikasih masuk? Itu yang kita sayangkan,” kata Zakky saat dihubungi, Selasa (15/7).
“Makanya besok kita lakukan RDP (Rapat Dengar Pendapat) dengan Pemkab dan Al Washliyah,” sambungnya.
Kata Al Washliyah
Ketua PW Al Washliyah Sumut Dedi Iskandar menuturkan para pelajar tidak dapat masuk ke area sekolah lantaran sekolah digembok oleh Pemkab Deli Serdang.
“Pihak Disdik atas nama Pemkab meminta agar kita mengangkat barang-barang kami yang ada di situ, dikosongkan, karena akan digunakan oleh Pemkab,” kata dia.
Dengan adanya insiden ini, Dedi menuturkan pihaknya menyiapkan skenario kelas darurat agar siswa tetap bisa belajar.
“Saya dengan teman-teman siapkan skenario kalau memang harus kita menyiapkan kelas darurat ya kita siapkan,” kata dia.
“Itu kan lahan 3,5 ha itu kan tanah kami semua, saya sudah siapkan tadi malam kalau perlu kita bangun tenda di situ untuk kelas anak-anak akan kita segera bangun kalau Pemkab tetap gembok,” sambungnya.(Sumber)





